Pemanfaatan Limbah Tebu : Perspektif PT. Gunung Madu Plantation

Menarik sekali ketika membaca profil salah satu perkebunan swasta yang berlokasi di Lampung Tengah, yaitu PT. Gunung Madu Plantation (GMP). Beberapa Teknik pertanian diterapkan sedemikian rupa, baik teknologi sederhana hingga teknologi yang mempunyai taraf tinggi.

Pemanfaatan tanaman tebu sungguh komprehensif, dimana semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan bagi kepentingan hajat hidup orang banyak. Disinilah kekuasaan ALLOH SWT diperlihatkan kepada mereka yang mau berpikir secara sistematis dan mensyukuri nikmat yang didapat.

Pada bagian pembahasan “menjaga lingkungan”, sungguh luar biasa teknologi yang diterapkan oleh perusahaan GMP ini. Berikut saya copy paste yang sumbernya berasal dari http://www.gunungmadu.co.id yang diakses pada tanggal 8 Mei 2010.

Limbah pertanian berupa sisa-sisa tanaman (pucuk tebu dan daun) dikembalikan ke tanah sebagai mulsa, sehingga menambah kesuburan tanah.

Sementara limbah padat dan limbah cair dari pabrik, tetapi juga dikelola lagi sehingga bermanfaat, bahkan secara ekonomis sangat menguntungkan.

Limbah padat berupa ampas tebu (bagasse) misalnya, dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar ketel uap (boiler) untuk penggerak mesin pabrik dan pembangkit tenaga listrik untuk perumahan karyawan, perkantoran, dan peralatan irigasi. Karena itu, pabrik dan pembangkit listrik Gunung Madu tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM), baik saat musim giling (on season) maupun tidak giling (off season).

Limbah padat lain adalah endapan nira yang disebut blotong (filter cake) dan abu. Blotong, abu, dan bagasse dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos, yang digunakan lagi di kebun sebagai penyubur tanah.

Limbah cair yang dikeluarkan pabrik merupakan limbah organik dan bukan Limbah B3 (bahan beracu dan berbahaya). Limbah cair ini dikelola melalui dua tahapan.

Pertama, penanganan di dalam pabrik (in house keeping). Sistem ini dilakukan dengan cara mengefisienkan pemakaian air dan penangkap minyak (oil trap) serta pembuatan bak penangkap abu bagasse (ash trap).

Kedua, penanganan setelah limbah keluar dari pabrik, melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL dibangun di atas tanah seluas lebih dari 8 ha, terdiri dari 13 kolam dengan kedalaman bervariasi dari 2 m (kolam aerasi) sampai 7 m (kolam anaerob). Total daya tampung lebih dari 240.000 m3, sehingga waktu inap (retention time) dapat mencapai 60 hari.

Leave a comment

Filed under perkebunan tebu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s