Antara Semangat Bung Hatta (muda) dan Pemuda Indonesia Sekarang

Kembali saya menulis blog, bukan tanpa dasar. Saya baru saya menghabiskan seperempat halaman buku yang berjudul “DEMOKRASI UNTUK INDONESIA : PEMIKIRAN POLITIK BUNG HATTA”.  Penulis buku tersebut ialah salah seorang staf pengajar (dosen tetap di jurusan sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya) yang bernama Dr. Zulfikri Suleman.

Pada awalnya saya memandang sinis dan berpokiran kontraproduktif dengan pola pemikiran yang tertuang dalam buku ini. Buku ini sangat menggambarkan kehebatan yang dimiliki oleh orang-orang Minangkabau. Sementara itu lembar demi lembar saya “santap” esensi buku tersebut secara seksama. Akhirnya disini saya menemukan sosok Minangkabau yang pekerja keras, tekun, terdidik, idealis dan jernih dalam menghadapi suatu permasalahan yang serius. Sosok tersebut ialah Muhammad Hatta.

Jujur saya lebih menjunjung serta menghargai cita-cita dan cara yang dimiliki oleh Bung Hatta dibandingkan dengan Bung Karno yang glamor dan terlalu ngotot dalam melaksanakan segala sesuatu. Sementara Bung Hatta dapat dilihat dari sisi humanis dan selalu enjoy hingga low profile.

Yang pasti di sini saya sangat meresapi nilai perjuangan yang dilakukan oleh Bung Hatta. Beliau tidak memakai dan bahkan enggan menyebutkan nama marga minangkabau beliau dengan semangat nasionalismenya yang sangat tinggi

Nilai lain, jiwa nasionalisme serta revolusi yang beliau kembangkan ialah dipengaruhi oleh tekanan yang semakin berat dari pihak penjajah dengan kolonialisme yang semakin mengguncang dan mencekik tanah air.

Beliau memutuskan untuk melanjutkan studi di Belanda selama sebelas tahun (mungkin kalau sekarang bisa kena D.O–Drop Out), dan ini bukan suatu indisipliner sebagai mahasiswa akan tetapi memperjuangkan kemerdekaan dan mengobarkan semangat nasionalisme melalui beberapa tulisan yang sangat radikal mengenai kolonialisme di negeri Belanda. Saat untaian ini dibentuk oleh penulis, pada awalnya saya sangat sulit membayangkan seorang mahasiswa yang begitu kuat mempertahankan argumentasi di antara sekian banyak sistem yang mengikat dan nilai diskriminasi yang tinggi terus merongrong.

Beliau sanggup mengorbankan masa mudanya demi kesejahteraan bangsanya. Saya sempat membaca salah satu alur cerita pada beberapa alinea yang menyebutkan bahwa Bung Hatta pernah berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. Ini merupakan suatu nadzar yang sangat berani dari pemuda bangsa saat itu.

Apabila kita melihat mahasiswa zaman sekarang, yang mempunyai idealisme yang tinggi danmenumpahkannya kepada beberapa demonstrasi yang cenderung anarkis. Sungguh sangat disayangkan. Itu semua dilakukan hanya tanpa alasan dan mengandalkan emosi sesaat serta tidak sebanding dengan nilai yang didapat di bangku kuliah.

Leave a comment

Filed under Bung Hatta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s