Budidaya Karet : Tantangan Indonesia dengan Beberapa Kompetitor Berlahan “Minimalis”.

Karet dan Indonesia

Perkembangan komoditas karet di tanah air memang memperlihatkan beberapa grafik yang “naik-turun”. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi para pemegang kebijakan serta praktisi yang bergerak di bidang pertanian, khususnya budidaya karet.

Melihat dari parameter luas lahan kebun karet yang ada di Indonesia, sepatutnya bisa dibanggakan. Akan tetapi parameter luas lahan tersebut tidak bisa dijadikan parameter yang mustajab. Buktinya negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sangat dan memperlihatkan kesiapan yang lebih dibandingkan dengan Indonesia dalam beberapa kompetisi di bidang pertanian (kebun teh) tersebut.

Disini dapat kita bayangkan, apa yang salah dengan potensi yang telah dimiliki oleh ibu pertiwi?

Kondisi rasional akan sangat diperlukan guna perkembangan tenaga ahli yang bergerak dibidang tersebut. Mari kita lihat perbandingan luasan lahan yang ada mengenai kebun karet di Indonesia (3 – 3,5 juta hektar) ini merupakan lahan karet yang terluas di dunia (Penebar Swadaya, 2008). Mungkinkah luasan lahan kebun tersebut akan selalu bertahan? Apakah para praktisi bisa lebih jeli memperhatikan beberapa faktor kompetitor yang sewaktu-waktu bisa menyalip luasan tersebut menjadi kavling-kavling perumahan serta kondominium-kondominium yang ada?

Sementara Thailand (2 juta Ha) sedangkan Malaysia (1,3 juta Ha). Melihat luasan lahan yang dimiliki oleh kedua negara tersebut bisa terbilang jauh di bawah Indonesia. Akan tetapi mutu produk yang ada sangat mampu menjungkalkan kedigdayaan (luasan lahan) Indonesia.

Permasalahan yang Mendasar untuk Tanaman Karet

Ada beberapa hal yang menggelitik kita untuk meniti riwayat tanaman karet tersebut. Permasalahan yang ada antara lain sebagian besar perkebunan karet rakyat tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan kebun dilakukan seadanya. setelah ditanam, karet dibiarkan tumbuh begitu saja sementara perawatannya kurang diperhatikan. Tanaman karet tua jarang diremajakan dengan klon baru. Bahkan, klon baru yang menghasilkan produksi perkebunan karet masih sangat rendah (Penebar Swadaya, 2008).

Leave a comment

Filed under perkebunan karet, Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s