Antara Dinamika Hingga Kesemrawutan Konsep Pembangunan: Tanggapan Terhadap Konsentrasi Pembangunan

Orde baru yang sudah kurang lebih 12 tahun berlalu sudah tidak asing dan bahkan sangat pas dijuluki orde pembangunan. Bapaknya, bapak pembangunan nasional, ibunya merupakan ibu pembangunan nasional.

Siapa sangka semua itu bakal menghasilkan anak dan cucu pembangunan nasional yang semrawut dan inkonsisten. Sungguh miris. Berikut merupakan seuntai tajuk rencana yang dipaparkan di harian Kompas edisi Kamis, 10 Juni 2010.

Semakin terdengar keluhan, kapan bisa berkonsentrasi pada agenda pembangunan jika terus terjadi kegaduhan oleh tarik- menarik kepentingan politik.

Keluhan yang bersifat gugatan itu muncul lagi ketika belakangan ini terjadi kehebohan atas dana aspirasi dari kalangan partai politik dan parlemen. Wacana dana aspirasi cepat menyita ruang publik dengan resonansi sangat tinggi. Silang pendapat soal dana aspirasi seakan mengisi ruang kosong karena melemahnya deru mesin pembangunan.

Timbul kesan, wacana tentang pembangunan kalah kencang, bahkan terkesan melemah, di tengah hiruk-pikuk dan ingar-bingar kegaduhan politik yang menjauh dari kepentingan rakyat sehari-hari. Segala manuver di kalangan elite cenderung tidak mengarah langsung untuk menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat, tetapi sering melenceng jauh oleh tarikan kepentingan politik.

Sekalipun berbagai persoalan sudah kelihatan terang benderang, tidak terlihat prioritas untuk mengatasinya. Perhatian dan fokus terhadap pembangunan tampak kedodoran. Sensitivitas tidak begitu kuat terhadap isu krusial, seperti kemiskinan, kehancuran ekologi, pendidikan yang kedodoran, korupsi, dan infrastruktur. Persoalan bangsa masih berputar-putar di situ-situ juga.

Sangat kuat kesan pula, kaum elite dan rakyat berjalan sendiri-sendiri. Kaum elite di pemerintahan dan parlemen asyik dengan agenda kepentingannya sendiri, sementara rakyat bergulat dengan persoalannya sehari-hari. Tampak semacam diskoneksitas yang mengancam sinergi, sinkronisasi, dan koordinasi yang sangat dituntut untuk menjaga keutuhan serta kemajuan bangsa dan negara.

Parlemen asyik dengan urusan kepentingannya, termasuk upaya melanggengkan posisinya, sementara rakyat terus bergulat dengan persoalan sehari-hari. Posisi rakyat tidak hanya tertekan berhadapan dengan perilaku aparat pemerintah dan parlemen, lebih-lebih yang korup, tetapi juga harus menghadapi kekuatan pasar dan arus perubahan zaman, termasuk dampak perubahan iklim.

Sungguh dikhawatirkan jika rakyat dibiarkan bergulat sendiri, sementara penguasa kehilangan konsentrasi dalam mendorong proses pembangunan untuk menciptakan kesejahteraan dan kecerdasan seperti diamanatkan konstitusi. Setiap proses pembangunan tidak hanya membutuhkan konsentrasi dan fokus, tetapi juga koordinasi, sinkronisasi, dan sinergi.

Ada yang berkomentar, jangan-jangan ide dana aspirasi muncul karena tidak terjadi sinergi antara legislatif dan eksekutif. Lebih jauh ada yang berspekulasi, DPR tergoda mengajukan ide dana aspirasi karena pihak eksekutif tidak menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan. Jika asumsinya demikian, kegaduhan politik terkait soal kevakuman dalam bidang pembangunan. Selama energi serta perhatian kaum elite dan seluruh komponen bangsa diarahkan pada pembangunan kesejahteraan, kegaduhan politik dengan sendirinya diyakini akan terdesak jauh ke belakang.

Sulit untuk dipisahkan antara kepentingan individu, golongan dan masyarakat. Kemajemukan dalam beberapa kepentingan yang ada menjadi patokan utama yang harus dikerucutkan untuk kemajuan bangsa.

Leave a comment

Filed under Pembangunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s