Kekompakan Karyawan di Afdeling Karanggadungan

Gambar

Integritas dan solidaritas karyawan merupakan faktor yang sangat menentukan kemajuan suatu perusahaan. dalam hal ini, perkebunan negara seperti PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) mempunyai suatu afdeling berpotensi disisi agrowisata dan produksi inti (komoditas karet). Dengan keluasan 297 ha di ketinggian 450 m.dpl – 900 m.dpl. setiap tahun menunjukkan eksistensi dan potensinya. Rencana ke depan track ATV dan wahana Kampoeng Karet Ngrgoyoso Afdeling Karanggadungan Kebun Batujamus/Kerjoarum akan segera dibentuk.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Afdeling Karanggadungan Kebun Batujamus/Kerjoarum PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero)

Gambar

Karanggadungan merupakan salah satu dari sembilan afdeling kebun yang ada di Kebun Batujamus/Kerjoarum PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero). Afdeling Karanggadungan berlokasi di Dukuh Gelang Desa Puntukrejo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Afdeling Karanggadungan mempunyai empat tahun tanam (TT) tanaman karet yaitu tahun 2006, 2007, 2008, 2009 dan 2010. selanjutnya untuk tahun tanam 2006 (Tanaman Belum Menghasilkan/TBM V) melaksanakan buka sadap seluas 54,39 ha dengan jenis karet polykloon.

Afdeling Karanggadungan juga mempunyai potensi agrowisata yang luar biasa. Hal tersebut dapat terlihat dari karakteristik alam diantaranya kesuburan tanah dan topografi lingkungan kebun yang asri. Di lingkungan emplasemen (rumah dinas Sinder/Kepala afdeling kebun) dimanfaatkan sebagai lahan pengembangan sayuran, ternak sapi, kambing dan kolam ikan lele, ikan mas, serta ikan mujair.

Leave a comment

Filed under perkebunan karet

Afdeling Karanggadungan Kebun Batujamus/Kerjoarum PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero)

Gambar

Leave a comment

Filed under Uncategorized

FLUKTUASI INDEKS UMUM INFLASI SERTA PERKEMBANGAN HARGA KOMODITAS KARET

BAB 1 PENDAHULUAN

 

1.1.Latar Belakang

            Inflasi dalam tahun 1998 mencapai tingkat yang tertinggi sejak tahun 1970. Perkiraan ini berdasarkan pencapaian inflasi sebesar 35,07 persen selama periode Januari – Mei 1998. Berdasarkan tingkat inflasi dan bobotnya maka kelompok bahan makanan merupakan penyumbang inflasi terbesar. Dalam kelompok ini tercatat beberapa jenis komoditi yang memberikan sumbangan besar terhadap inflasi, seperti bawang merah, tomat sayur, ikan segar, telur ayam ras, beras, dan minyak goreng. Namun demikian kenaikan harga dalam kelompok ini memperlihatkan kecenderungan yang semakin menurun.Perekonomian Nasional di Indonesia pada tahun 1997 mengalami keterpurukan diakibatkan krisis moneter. Krisis moneter yang melanda indonesia di awali dengan terdepresiasinya secara tajam nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (terutama dolar Amerika), hal itu mengakibatkan terjadinya lonjakan harga barang-barang impor. Karena kegagalan mengatasi krisis moneter dalam jangka waktu yang pendek, bahkan cenderung berlarut-larut hingga menyebabkan kenaikan tingkat harga terjadi secara umum. Akibatnya angka inflasi nasional melonjak cukup tajam tanpa diimbangi oleh peningkatan pendapatan masyarakat yang cenderung semakin merosot.

Definisi umum inflasi ialah sebagai suatu keadaan dimana nilai mata uang lebih rendah dari nilai suatu barang. Namun secara sederhana dapat diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Dalam ilmu ekonomi, inflasi merupakan proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.

Menurut situs wikipedia.com (2011), inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Sementara itu, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Secara sederhana Bank Indonesia (2011) mendefinisikan inflasi sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.

Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota. Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain:

 

  1. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas.
  2. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.

 

 

1.2. Maksud dan Tujuan

Paper ini dibuat sebagai salah satu syarat serta tugas matakuliah ekonomi makro. Selanjutnya paper ini membahas inflasi sesuai dengan data BPS antara tahun 2006 hingga 2011 serta beberapa contoh kasus mengenai pengaruh inflasi terhadap perekonomian di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II PENGARUH INFLASI TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

 

2.1. Penyebab Munculnya Inflasi

Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi dan/atau termasuk kurangnya distribusi). Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur dan regulasi.

Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.

Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi serta termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran.

2.2. Penggolongan Inflasi

Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.

2.3. Cara Mengukur inflasi

Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:

  • Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
  • Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
  • Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
  • Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
  • Indeks harga barang-barang modal
  • Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.
2.4. Fluktuasi Inflasi Indonesia tahun 2005 hingga 2011

Data inflasi tertinggi adalah pada tahun 2005 sebesar 17,11 %  dan yang terendah pada tahun 2009 sebesar 2,78 % sedangkan tingkat inflasi berdasarkan komoditi yang tertinggi adalah bahan makanan  pada tahun 2008 sebesar 16,35 % dan terendah transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan pada tahun 2009 sebesar -3,67 % (Lampiran 1). Bahan makanan untuk tahun 2006 memiliki nilai inflasi tertinggi yaitu 12,94 % dibanding dengan komoditas utama lain, sementara itu indeks umum inflasi tahun 2006 sebesar 6,60 %. Kelompok komoditi transport, komunikasi dan jasa keuangan memiliki nilai inflasi terendah yaitu 1,02 % pada tahun 2006 ini. Memasuki tahun 2007, nilai indeks umum inflasi menurun 1 % dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu sebesar 6,59 % dimana bahan makanan dan komoditas transport, komunikasi dan jasa keuangan masih memiliki gap nilai yang jauh, masing-masing sebesar 11,26 % dan 1,25 %. Tahun 2008 memiliki nilai indeks umum inflasi sebesar 11,06 %. Sementara itu yang berkontribusi terhadap nilai indeks umum inflasi yang terbesar di tahun 2008 ini antara lain kelompok komoditi bahan makanan (16,35 %), komoditi makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (12,53 %) dan kelompok komoditi perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (10,92 %).

Titik terendah nilai indeks umum inflasi ialah di tahun 2009  sebesar 2,78 %. Selanjutnya tren baru dibanding dua tahun sebelumnya ialah makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau memiliki nilai inflasi tertinggi (6 %). Tahun 2010 bahan makanan kembali meningkat untuk nilai inflasi (15,64 %) sedangkan kesehatan terendah (2,19 %). Apabila dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya nilai inflasi untuk bahan makanan di tahun 2011 memiliki nilai terendah yaitu 1,75 %. Nilai inflasi tertinggi bergeser ke sandang (7,26 %). Data inflasi Indonesia menurut kelompok komoditi dapat dilihat di bawah ini :

 

Inflasi Indonesia Menurut Kelompok Komoditi

 

2006, 2007, Jan-Mei 2008 (2002=100), Juni – Desember 2008 (2007=100), 2009, 2010, September 2011 (2007=100)

 

Tahun/Bulan

Bahan Makanan

Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

Sandang

Kesehatan

Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

Indeks Umum

 

2011

1.75

3.51

2.75

7.26

3.63

4.73

2.06

2.97

September

-0.09

0.48

0.26

0.97

0.22

0.54

0.18

0.27

Agustus

1.07

0.46

0.33

3.07

0.26

2.14

0.80

0.93

Juli

1.84

0.42

0.19

0.62

0.27

0.97

0.17

0.67

Juni

1.27

0.41

0.30

0.57

0.41

0.18

0.15

0.55

Mei

-0.28

0.22

0.25

0.64

0.50

0.03

0.14

0.12

April

-1.90

0.20

0.21

0.75

0.38

0.08

0.07

-0.31

Maret

-1.94

0.32

0.29

0.38

0.38

0.17

0.08

-0.32

Februari

-0.33

0.47

0.40

-0.08

0.69

0.13

0.15

0.13

Januari

2.21

0.49

0.48

0.15

0.47

0.42

0.31

0.89

2010

15.64

6.96

4.08

6.51

2.19

3.29

2.69

6.96

Desember

2.81

0.36

0.21

1.08

0.16

0.07

0.25

0.92

November

1.49

0.46

0.25

0.89

0.09

0.08

0.01

0.60

Oktober

-0.85

0.48

0.36

1.73

0.24

0.44

-0.57

0.06

September

0.44

0.52

0.25

1.08

0.23

0.26

0.57

0.44

Agustus

0.47

0.67

1.59

0.06

0.27

1.27

0.36

0.76

Juli

4.69

0.65

0.26

-0.09

0.27

0.86

1.51

1.57

Juni

3.20

0.41

0.23

0.93

0.06

0.06

0.15

0.97

Mei

0.49

0.34

0.09

1.19

0.11

0.02

0.02

0.29

April

0.33

0.24

0.10

0.14

0.17

0.01

0.04

0.15

Maret

-0.91

0.28

0.13

0.01

0.25

0.02

0.07

-0.14

Februari

0.86

0.40

0.20

-0.47

0.18

0.07

0.11

0.30

Januari

1.73

1.93

0.34

-0.20

0.15

0.10

0.16

0.84

2009

3.88

7.81

1.83

6.00

3.89

3.89

-3.67

2.78

Desember

-0.13

0.93

0.28

0.95

0.20

0.01

0.35

0.33

November

-0.82

0.26

0.15

0.98

0.19

0.13

-0.08

-0.03

Oktober

0.28

0.70

0.24

0.37

0.20

0.34

-0.71

0.19

September

2.43

1.08

0.18

1.28

0.29

0.43

0.89

1.05

Agustus

1.29

0.73

0.21

0.01

0.35

1.26

-0.02

0.56

Juli

1.14

0.29

0.08

-0.23

0.13

1.21

0.28

0.45

Juni

-0.18

0.29

0.04

0.30

0.23

0.09

0.25

0.11

Mei

-0.25

0.48

0.09

-0.48

0.62

0.07

0.00

0.04

April

-1.33

0.40

0.12

-1.70

0.34

0.05

0.07

-0.31

Maret

-0.26

0.52

0.20

1.02

0.73

0.06

0.25

0.22

Februari

0.95

0.91

0.28

2.85

0.17

0.04

-2.43

0.21

Januari

0.76

0.95

-0.06

0.55

0.37

0.12

-2.53

-0.07

2008

16.35

12.53

10.92

7.33

7.96

6.66

7.49

11.06

Desember

0.57

0.52

0.52

1.13

0.21

0.16

-2.74

-0.04

November

-0.67

1.13

0.23

0.72

0.37

0.26

-0.31

0.12

Oktober

0.71

0.77

0.24

0.71

0.52

0.39

0.10

0.45

September

1.90

0.94

1.22

0.50

0.36

0.63

0.22

0.97

Agustus

0.94

0.59

0.53

-0.53

0.56

1.36

-0.01

0.51

Juli

1.85

1.07

1.80

0.81

0.71

1.74

0.71

1.37

Juni

1.28

1.33

1.14

0.49

0.83

0.44

8.72

2.46

Mei

1.72

0.86

1.58

-0.16

0.69

0.37

2.23

1.41

April

0.55

0.86

1.62

-0.27

1.88

0.13

-1.18

0.57

Maret

1.44

1.08

0.99

1.17

0.69

0.09

0.11

0.95

Februari

1.59

0.88

-0.01

0.76

1.56

0.04

0.02

0.65

Januari

2.77

2.02

1.80

2.31

0.72

0.01

0.24

1.77

2007

11.26

6.41

4.88

8.42

4.31

8.83

1.25

6.59

Desember

2.47

0.91

0.63

0.99

0.41

0.12

0.22

1.10

November

0.04

0.43

0.12

1.66

0.26

0.11

-0.27

0.18

Oktober

1.87

0.51

0.21

2.05

0.45

0.21

0.47

0.79

September

1.81

0.45

0.18

1.22

0.44

1.70

0.07

0.80

Agustus

0.79

0.48

0.77

0.49

0.24

3.18

0.04

0.75

Juli

1.35

0.40

0.32

0.61

0.35

2.89

0.05

0.72

Juni

0.47

0.33

0.13

-0.43

0.22

0.03

0.11

0.23

Mei

-0.39

0.47

0.35

0.21

0.18

0.01

0.13

0.10

April

-1.30

0.38

0.26

0.61

0.32

-0.03

0.22

-0.16

Maret

0.16

0.36

0.29

0.41

0.20

0.03

0.09

0.24

Februari

0.84

0.65

0.80

0.56

0.64

0.23

0.03

0.62

Januari

2.68

0.87

0.71

-0.25

0.54

0.10

0.10

1.04

2006

12.94

6.36

4.83

6.84

5.87

8.13

1.02

6.60

Desember

3.12

1.11

0.74

0.13

1.05

0.07

0.10

1.21

November

0.65

0.47

0.29

0.70

0.42

0.03

-0.21

0.34

Oktober

2.17

0.64

0.26

1.00

0.29

0.10

0.46

0.86

September

0.62

0.13

0.28

-0.13

0.31

1.84

-0.01

0.38

Agustus

-0.34

0.35

0.30

0.35

0.33

4.77

0.01

0.33

Juli

0.99

0.31

0.21

0.36

0.06

0.69

0.08

0.45

Juni

1.12

0.26

0.32

-0.08

0.27

0.25

0.10

0.45

Mei

0.28

0.30

0.30

2.03

0.57

0.07

0.17

0.37

April

-0.85

0.43

0.42

0.70

0.58

0.09

0.07

0.05

Maret

-0.88

0.58

0.36

0.15

0.39

0.12

0.13

0.03

Februari

1.18

0.65

0.55

0.72

0.40

-0.28

0.16

0.58

Januari

4.29

0.94

0.70

0.73

1.06

0.20

-0.05

1.36

*) Sejak Juni 2008, IHK berdasarkan pola konsumsi didapat dari 2007 Survei Biaya Hidup di 66 kota (2007=100)

 

 

Adanya fluktuasi nilai indeks inflasi antara tahun 2005 hingga 2011 disebabkan karena inflasi tarikan permintaan (demand-pull inflation), dimana inflasi tersebut disebabkan karena adanya kenaikan permintaan agregat yang sangat besar dibandingkan dengan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Dengan adanya data inflasi dari Badan Pusat Statistik tersebut, pemerintah harus terus melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan inflasi dengan melakukan operasi pasar, menjaga kecukupan pasokan dan ketersediaan barang, mengamankan stok di daerah, menjaga kelancaran distribusi barang, mengembangkan sistem logistik nasional, dan mengintensifkan penyuluhan pertanian agar petani lebih siap dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

 

2.5. Dampak Inflasi Secara Global

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi) sehingga keadaan perekonomian menjadi lemah.

Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.

Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen tidak akan meneruskan produksinya. Apabila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil). Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

 

2.6. Peran Bank Sentral Terhadap Inflasi

 

Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral, termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen, salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.

Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

2.7. Pengaruh Inflasi terhadap Komoditas Karet

Peranan karet terhadap ekspor nasional tidak dapat dianggap kecil, mengingat Indonesia merupakan produsen karet nomor dua terbesar di dunia setelah Thailand dengan produksi sebesar 2,751 juta ton pada tahun 2008. Namun dari sisi luasan Indonesia memiliki luas lahan karet terbesar didunia yaitu 3,42 juta hektar dan volume ekspor 2,295 juta ton dengan nilai US$ 6,06 Milyar pada tahun 2008. Produktifitas karet Indonesia sebesar 994 Kg/ha/tahun dibandingkan Malaysia yang mencapai 1430 Kg/ha/tahun dan Thailand 1690 Kg/ha/tahun, padahal persentase perkebunan karet rakyat Indonesia masih sekitar 85 persen sementara Malaysia 90 persen dan Thailand 99 persen ini menunjukan tingkat produktifitas karet Indonesia per satuan luas masih dibawah Malaysia dan Thailand. Namun demikian Peranan karet terhadap ekspor nasional tidak dapat dianggap kecil, mengingat Indonesia merupakan produsen karet nomor dua terbesar di dunia setelah Thailand dengan produksi sebesar 2,751 juta ton pada tahun 2008.(www.indonesia.go.id, 2008)

Produksi karet Indonesia sebagian besar dipasarkan ke mancanegara (diekspor) dan hanya sebagian kecil dipasarkan di dalam negeri. Pangsa pasar utama untuk karet tersebut telah menjangkau kelima benua yakni Asia, Afrika, Australia, Eropa, dan Eropa. Namun demikian Asia merupakan pangsa pasar yang paling utama.

Ekspor karet Indonesia secara umum dibagi dalam dua jenis yaitu karet alam dan karet sintesis, dimana selama periode 2005-2007 produksi karet yang diekspor sebagian besar merupakan dalam bentuk karet alam. Dalam perkembangannya ekspor kedua karet tersebut selama pertiode tahun 2005-2007 mengalami fluktuasi. Ekspor karet alam Indonesia mencapai 2,02 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 2.583,96 juta dan pada tahun 2006 volume ekspor karet alam mengalami kenaikan sekitar 12,96 persen yakni 2,29 juta ton dan nilainya mencapai US$ 4.322,29 juta. Pada tahun 2007 ekspor karet alam juga mengalami peningkatan sebesar 5,28 persen yakni menjadi 2,41 juta ton dengan nilai mencapai sebesar US$ 4.870,51 juta. ( Indonesian Rubber Statisics 2007).

Sementara itu pengaruh inflasi terhadap perekonomian indonesia serta beberapa sektor perkebunan (komoditas karet) cukup signifikan. Menurut Anwar (2006), Karet sintetik sebagai produk hasil industri harganya relatif lebih stabil dibandingkan dengan karet alam. Selain itu, karet sintetik yang umumnya diproduksi dan dikonsumsi negara industri, harganya cenderung naik sejalan dengan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi dan tingkat inflasi dari negara produsen. Hal ini sangat berbeda dengan harga karet alam yang berfluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca/iklim), nilai tukar dan perkembangan ekonomi negara konsumen.

Sebelum tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik disebabkan oleh kenaikan biaya produksi dan inflasi, setelah tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan harga minyak mentah. Isu utama yang berhubungan dengan industri karet sintetik adalah harga minyak mentah, dan dampaknya terhadap harga dan permintaan karet sintetik. Apabila terjadi kenaikan atau penurunan harga minyak mentah maka dampaknya terhadap industri hilir pada pasar petrokimia, dalam hal ini adalah pasar butadiene dan stryrene, dan dampak tersebut baru terlihat 2-3 bulan kemudian.

Menurut laporan neraca pembayaran Indonesia realisasi triwulan II-2011 Bank Indonesia (2011), Ekspor produk karet pada Tw. II-2011 tercatat sebesar USD 3,9 miliar atau naik 9,0% dari triwulan sebelumnya. Peningkatan ekspor terutama ditopang oleh kenaikan volume ekspor sebesar 9,8% dari periode sebelumnya. Peningkatan volume ekspor produk karet disebabkan oleh tingginya permintaan karet dunia dan membaiknya sisi produksi berkat dukungan faktor cuaca yang sudah memasuki musim kemarau. Pada sisi harga, terjadi penurunan harga pada periode laporan setelah periode sebelumnya mencapai harga tertinggi sejak tahun 2007.

Peningkatan ekspor produk karet cukup signifikan terjadi pada ekspor ke India, naik 360,8% (q.t.q). Akibatnya, India masuk ke dalam peringkat lima negara tujuan utama ekspor produk karet Indonesia. Ekspor produk karet tujuan Jepang, pascatsunami, masih mengalami pertumbuhan positif (6,0% q.t.q). Namun, pertumbuhan ekspor ke Jepang tersebut relatif rendah karena industri otomotif yang merupakan konsumen terbesar karet dunia, belum menyerap karet olahan secara optimal. Secara tahunan, ekspor karet indonesia pada Tw. II-2011 juga mengalami peningkatan yang signifikan, sebesar 65,0% (Lampiran 2.).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN

 

3.1. Kesimpulan

  1. Tahun 2008 nilai indeks umum inflasi di Indonesia memiliki mencapai nilai tertinggi antara tahun 2005 hingga 2011 ialah sebesar 11,06 %.
  2. Inflasi di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan. Inflasi yang ringan akan memberi pengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik, sedangkan jika inflasi itu besar akan berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Bahkan jika inflasi tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah dapat membuat perekonomian negara Indonesia menjadi semakin terpuruk.
  3. Karet sintetik yang umumnya diproduksi dan dikonsumsi negara industri, harganya cenderung naik sejalan dengan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi dan tingkat inflasi dari negara produsen. Sementara itu harga karet alam berfluktuasi serta dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca/iklim), nilai tukar dan perkembangan ekonomi negara konsumen. Komoditas karet (terutama karet sintetik) cenderung memiliki kekuatan tersendiri dan sangat berpengaruh pada fluktuasi inflasi karena merupakan roda penggerak perekonomian Indonesia dan komoditas unggulan ekspor non-migas.
  4. Stabilitas ekonomi dipertahankan melalui pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati serta pelaksanaan kebijakan fiskal yang mengarah pada ketahanan fiskal (fiscal sustainability) dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. Stabilitas ekonomi harus didukung dengan ketahanan sektor keuangan melalui penguatan dan pengaturan jasa keuangan, perlindungan masyarakat, serta peningkatan koordinasi berbagai otoritas keuangan melalui jaring pengaman sistem keuangan (Indonesia Financial Safety Net).

 

3.2. Saran

 

1.      Meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi.  Kualitas pertumbuhan perlu ditingkatkan agar kegiatan ekonomi yang terdorong dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih besar dan mengurangi jumlah penduduk miskin. Tahun 2000–2002, untuk setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu diciptakan lapangan kerja bagi 200–300 ribu orang sedangkan dalam tahun 1996 untuk setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi mampu diciptakan lapangan kerja bagi sekitar 400–500 ribu orang.

2.      Menjaga stabilitas ekonomi berkaitan dengan kemungkinan timbulnya gejolak ekonomi baik yang berasal dari luar, antara lain dengan kemungkinan adanya policy reversal dari negara-negara industri maju dari kebijakan moneter yang longgar kepada kebijakan moneter yang lebih ketat maupun yang berasal dari dalam negeri yang pada gilirannya dapat mempengaruhi ketidakseimbangan eksternal, ketahanan fiskal, dan stabilitas moneter.

  1. Peningkatan iklim usaha untuk mendorong investasi dan dan daya saing ekspor dilakukan dengan mengurangi hambatan-hambatan yang ada yaitu dengan menyederhanakan prosedur perijinan, mengurangi tumpang tindih kebijakan antara pusat dan daerah serta antar sektor, meningkatkan kepastian hukum terhadap usaha, menyehatkan iklim ketenagakerjaan, meningkatkan penyediaan infrastruktur, menyederhanakan prosedur perpajakan dan kepabeanan, serta meningkatkan fungsi intermediasi perbankan dalam menyalurkan kredit kepada sektor usaha. Dalam kaitan itu beberapa kawasan strategis dan cepat tumbuh terutama di luar Jawa akan dikembangkan dengan memberikan insentif yang tepat sasaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar, Chairil. 2006. Perkembangan Pasar dan Prospek Agribisnis Karet di Indonesia. Balai Penelitian Sungei Putih. Medan

Elfrianto, Kevin. 2011. 2020: RI Targetkan jadi produsen karet terbesar dunia. Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKINDO)

Bank Indonesia. 2011. Laporan Neraca Pembayaran Indonesia. Realisasi Triwulan II-2011. Jakarta (sumber : www.bi.go.id, diakses tanggal 4 November 2011)

Sumber Internet :

www.bps.go.id (Diakses tanggal : 5 November 2011)

www.bappenas.go.id (Diakses tanggal : 5 November 2011)

www.indonesia.go.id (Diakses tanggal : 6 November 2011)

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Antara Dinamika Hingga Kesemrawutan Konsep Pembangunan: Tanggapan Terhadap Konsentrasi Pembangunan

Orde baru yang sudah kurang lebih 12 tahun berlalu sudah tidak asing dan bahkan sangat pas dijuluki orde pembangunan. Bapaknya, bapak pembangunan nasional, ibunya merupakan ibu pembangunan nasional.

Siapa sangka semua itu bakal menghasilkan anak dan cucu pembangunan nasional yang semrawut dan inkonsisten. Sungguh miris. Berikut merupakan seuntai tajuk rencana yang dipaparkan di harian Kompas edisi Kamis, 10 Juni 2010.

Semakin terdengar keluhan, kapan bisa berkonsentrasi pada agenda pembangunan jika terus terjadi kegaduhan oleh tarik- menarik kepentingan politik.

Keluhan yang bersifat gugatan itu muncul lagi ketika belakangan ini terjadi kehebohan atas dana aspirasi dari kalangan partai politik dan parlemen. Wacana dana aspirasi cepat menyita ruang publik dengan resonansi sangat tinggi. Silang pendapat soal dana aspirasi seakan mengisi ruang kosong karena melemahnya deru mesin pembangunan.

Timbul kesan, wacana tentang pembangunan kalah kencang, bahkan terkesan melemah, di tengah hiruk-pikuk dan ingar-bingar kegaduhan politik yang menjauh dari kepentingan rakyat sehari-hari. Segala manuver di kalangan elite cenderung tidak mengarah langsung untuk menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat, tetapi sering melenceng jauh oleh tarikan kepentingan politik.

Sekalipun berbagai persoalan sudah kelihatan terang benderang, tidak terlihat prioritas untuk mengatasinya. Perhatian dan fokus terhadap pembangunan tampak kedodoran. Sensitivitas tidak begitu kuat terhadap isu krusial, seperti kemiskinan, kehancuran ekologi, pendidikan yang kedodoran, korupsi, dan infrastruktur. Persoalan bangsa masih berputar-putar di situ-situ juga.

Sangat kuat kesan pula, kaum elite dan rakyat berjalan sendiri-sendiri. Kaum elite di pemerintahan dan parlemen asyik dengan agenda kepentingannya sendiri, sementara rakyat bergulat dengan persoalannya sehari-hari. Tampak semacam diskoneksitas yang mengancam sinergi, sinkronisasi, dan koordinasi yang sangat dituntut untuk menjaga keutuhan serta kemajuan bangsa dan negara.

Parlemen asyik dengan urusan kepentingannya, termasuk upaya melanggengkan posisinya, sementara rakyat terus bergulat dengan persoalan sehari-hari. Posisi rakyat tidak hanya tertekan berhadapan dengan perilaku aparat pemerintah dan parlemen, lebih-lebih yang korup, tetapi juga harus menghadapi kekuatan pasar dan arus perubahan zaman, termasuk dampak perubahan iklim.

Sungguh dikhawatirkan jika rakyat dibiarkan bergulat sendiri, sementara penguasa kehilangan konsentrasi dalam mendorong proses pembangunan untuk menciptakan kesejahteraan dan kecerdasan seperti diamanatkan konstitusi. Setiap proses pembangunan tidak hanya membutuhkan konsentrasi dan fokus, tetapi juga koordinasi, sinkronisasi, dan sinergi.

Ada yang berkomentar, jangan-jangan ide dana aspirasi muncul karena tidak terjadi sinergi antara legislatif dan eksekutif. Lebih jauh ada yang berspekulasi, DPR tergoda mengajukan ide dana aspirasi karena pihak eksekutif tidak menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan. Jika asumsinya demikian, kegaduhan politik terkait soal kevakuman dalam bidang pembangunan. Selama energi serta perhatian kaum elite dan seluruh komponen bangsa diarahkan pada pembangunan kesejahteraan, kegaduhan politik dengan sendirinya diyakini akan terdesak jauh ke belakang.

Sulit untuk dipisahkan antara kepentingan individu, golongan dan masyarakat. Kemajemukan dalam beberapa kepentingan yang ada menjadi patokan utama yang harus dikerucutkan untuk kemajuan bangsa.

Leave a comment

Filed under Pembangunan

Budidaya Karet : Tantangan Indonesia dengan Beberapa Kompetitor Berlahan “Minimalis”.

Karet dan Indonesia

Perkembangan komoditas karet di tanah air memang memperlihatkan beberapa grafik yang “naik-turun”. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi para pemegang kebijakan serta praktisi yang bergerak di bidang pertanian, khususnya budidaya karet.

Melihat dari parameter luas lahan kebun karet yang ada di Indonesia, sepatutnya bisa dibanggakan. Akan tetapi parameter luas lahan tersebut tidak bisa dijadikan parameter yang mustajab. Buktinya negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sangat dan memperlihatkan kesiapan yang lebih dibandingkan dengan Indonesia dalam beberapa kompetisi di bidang pertanian (kebun teh) tersebut.

Disini dapat kita bayangkan, apa yang salah dengan potensi yang telah dimiliki oleh ibu pertiwi?

Kondisi rasional akan sangat diperlukan guna perkembangan tenaga ahli yang bergerak dibidang tersebut. Mari kita lihat perbandingan luasan lahan yang ada mengenai kebun karet di Indonesia (3 – 3,5 juta hektar) ini merupakan lahan karet yang terluas di dunia (Penebar Swadaya, 2008). Mungkinkah luasan lahan kebun tersebut akan selalu bertahan? Apakah para praktisi bisa lebih jeli memperhatikan beberapa faktor kompetitor yang sewaktu-waktu bisa menyalip luasan tersebut menjadi kavling-kavling perumahan serta kondominium-kondominium yang ada?

Sementara Thailand (2 juta Ha) sedangkan Malaysia (1,3 juta Ha). Melihat luasan lahan yang dimiliki oleh kedua negara tersebut bisa terbilang jauh di bawah Indonesia. Akan tetapi mutu produk yang ada sangat mampu menjungkalkan kedigdayaan (luasan lahan) Indonesia.

Permasalahan yang Mendasar untuk Tanaman Karet

Ada beberapa hal yang menggelitik kita untuk meniti riwayat tanaman karet tersebut. Permasalahan yang ada antara lain sebagian besar perkebunan karet rakyat tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan kebun dilakukan seadanya. setelah ditanam, karet dibiarkan tumbuh begitu saja sementara perawatannya kurang diperhatikan. Tanaman karet tua jarang diremajakan dengan klon baru. Bahkan, klon baru yang menghasilkan produksi perkebunan karet masih sangat rendah (Penebar Swadaya, 2008).

Leave a comment

Filed under perkebunan karet, Uncategorized

POPULASI MIKROBA PELARUT FOSFAT, P TERSEDIA DAN KONSENTRASI P TANAMAN SERTA HASIL TANAMAN PADI GOGO (Oryza sativa L.) YANG DIPENGARUHI MIKROBA PELARUT FOSFAT DAN PUPUK P PADA ULTISOL JATINANGOR.

ABSTRAK

Mohamad Dion Tiara, 2009. Populasi Mikroba Pelarut Fosfat, P Tersedia dan Konsentrasi P Tanaman Serta Hasil Tanaman Padi Gogo (Oryza sativa L.) yang Dipengaruhi Mikroba Pelarut Fosfat dan Pupuk P pada Ultisol Jatinangor. Dibimbing oleh : Tamyid Syammusa dan Betty Natalie Fitriatin.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pangaruh mikroba pelarut fosfat (MPF) dan pupuk P terhadap populasi MPF, P tersedia, konsentrasi P tanaman serta hasil tanaman padi gogo (Oryza sativa L.) pada Ultisol Jatinangor yang telah dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor dengan ketinggian tempat sekitar 752 m di atas permukaan laut (m.dpl).

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial, terdiri dua faktor dengan enam belas kombinasi dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah isolat MPF (tanpa mikroba, Pseudomonas sp., Penicillium sp., serta campuran Pseudomonas sp. dan Penicillium sp.) dan dosis pupuk fosfat (tanpa pupuk P, 50 kg P2O5/ha, 75 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Percobaan dibuat dengan dua unit, dimana unit I untuk mengetahui populasi MPF, P-tersedia, konsentrasi P tanaman sementara itu unit II untuk mengetahui hasil tanaman padi gogo.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara isolat MPF dengan pupukP terhadap populasi MPF, P tersedia, konsentrasi P tanaman dan hasil tanaman padi gogo pada Ultisol Jatinangor. Secara mandiri perlakuan isolat MPF memberikan pengaruh yang nyata terhadap P tersedia dan konsentrasi P tanaman, sementara itu pupuk P berpengaruh nyata terhadap konsentrasi P tanaman. Inokulasi MPF dan pupuk P tidak berpengaruh terhadap populasi MPF. Inokulasi campuran Pseudomonas sp. dan Penicillium sp. menunjukkan pengaruh yang terbaik terhadap P tersedia serta konsentrasi tanaman. Dosis 75 kg P2O5/ha menunjukkan pengaruh terbaik terhadap P tersedia. Inokulan Penicillium sp. dan dosis 100 kg P2O5/ha menunjukkan pengaruh yang terbaik terhadap konsentrasi P tanaman.

4 Comments

Filed under Penelitian dan Skripsiku